Sabtu, 23 November 2013

Mozaik Cinta (Bagiab II)

Ijab kabulnya berjalan sangat lancar. Sami berjabat tangan dengan wali hakim dari Hanan. Pesta diadakan hari itu juga. Tamu yang datang jumlahnya mencapai ribuan. Tentu saja, keluarga Sami memiliki banyak relasi, belum lagi tamu-tamu dhuafa yang sengaja diundang keluarga Sami untuk menambah keberkahan. Dhuafa yang selalu rutin mereka santuni setiap bulan.
Pipi Hanan rasanya sudah pegal terus tersenyum mengaminkan do’a para tamu. Ia hampir tak duduk karena kedatangan tamu yang tiada henti. Lalu ketika mereka berkesempatan duduk, Hanan memberanikan diri menggenggam tangan Sami. Hanan tertawa dalam hati. Seharusnya, pengantin laki-laki yang melakukan itu kan? Tapi biarlah, mereka tak harus sama dengan pengantin lainnya.
Tangan Sami hangat, tak seperti tangannya yang dingin beku. Apakah Sami tidak tegang seperti dirinya? Hanan melihat wajah Sami, ia tersenyum seperti biasanya. Tak ada ketegangan sama sekali. Tapi Sami tak menepis tangannya, itu sudah cukup.
Sejak kepulangannya dari rumah Sami hingga saat kemarin, Hanan banyak berpikir. Berpikir tentang masa depannya yang belum tentu, berpikir tentang keputusan yang mungkin masih bisa berubah. Ya, mengingat sikap Sami yang tak terlalu peduli, juga kata-kata ketusnya, berkali-kali Hanan berpikir untuk mundur. Tapi jika mengingat balas budi itu, pikiran untuk mundur ia buang jauh-jauh. Lalu Hanan juga teringat akan rumah itu. Rumah yang sengaja Sami buat untuk dirinya. Sami begadang dua malam untuk menyelesaikan semua itu. Bukankah itu tanda, bahwa setidaknya Sami memperhatikan dirinya? Ya, Sami memperhatikan dirinya, dengan caranya sendiri.
“Apa kau lelah?” Hanan berbisik di telinga Sami.
“Tidak,” kata Sami tegas. Hanan menunggu kata-kata berikutnya. Bukankah seharusnya setelah kata itu akan ada kata berikutnya?
‘Tidak, kau? Apa kau lelah?’ seharusnya begitu kan? Tapi Sami tak mengatakan apa-apa lagi. Hanan melihat wajah Sami dari samping. Alangkah tenangnya wajah itu. Ketenangan itu membuat Hanan tersenyum.
Kening Hanan berkerut. Wajah Sami tiba-tiba berubah. Tidak, bukan wajahnya, tapi sorot matanya. Sorot mata tenangnya menjadi panik seketika. Dan pandangannya terpaku pada sesuatu. Hanan mengikuti pandangan itu.
Jauh disana, diantara para tamu yang hadir, Hanan melihat sosok itu. Perempuan cantik berwajah campuran berambut coklat. Dia juga sedang memandang terpaku pada Sami. Mereka saling berpandangan tanpa menyadari sekeliling mereka. Mereka asyik tertarik pada dunia mereka sendiri di tengah banyaknya orang mengelilingi mereka. Mereka diam berdua di dunia sepi mereka sendiri di tengah bisingnya suara musik dan suara senda gurau orang-orang. Hanan terhenyak, tangan Sami yang tengah ia genggam berubah dingin. Ia jelas merasakannya meski tangannya terbungkus sarung tipis.
Inikah riak dihatimu itu Sami?

*   *   *

Hanan membuka peniti yang menyemat kerudungnya perlahan. Setelah selesai, ia membuka ikatan rambutnya dan menyisirnya perlahan. Hanan tersenyum pahit. Kalau di sinetron, pengantin laki-laki akan membuka kerudung wanitanya perlahan saat mereka berhadapan. Pengantin laki-laki juga yang akan membuka ikatan dan mengurai rambut pengantin wanita. Tapi kenyataannya, ini bukan sinetron. Ini adalah kehidupannya dengan seorang suami bernama Sami. Sami yang dingin dan kaku. Jadi mana tahu dia sikap yang seharusnya dari pengantin laki-laki!
Jangankan saling berpandangan malu, Hanan malah duduk dihadapan cermin sendirian, dan Sami berdiri mematung di pintu (atau jendela?) menatap ke taman. Sarah salah. Inilah kamarnya, bukan yang disisi kiri.
Hanan memandang lagi dirinya, mengamati garis-garis wajahnya. Lalu ia teringat akan perempuan berambut coklat itu. Jika ia boleh sedikit memuji dirinya, kecantikan dirinya tak kalah oleh kecantikan perempuan itu. Perempuan itu memiliki kecantikan khas timur tengah, sebangsa dengan keluarga Sami yang keturunan Persia. Sementara dirinya memiliki kecantikan pribumi berpadu dengan kecantkan Eropa. Ya, kecantikan Eropa. Hidungnya mancung, matanya biru, kontras dengan kulitnya yang bersih dan rambutnya yang hitam. Kecantikan yang dihargai sangat tinggi yang dulu membuatnya harus terus berlari dan menghindar. Jadi Sami sangat keterlaluan kalau menyia-nyiakan dirinya.
Baiklah, jika Sami yang tak ingin memulai, maka dia yang akan memulai.
Hanan menyimpan sisir diatas meja riasnya. Lalu ia berjalan mendekati Sami. Hanan bersandar pada sisi jendela mengikuti cara Sami bersandar. Mereka kini berhadapan.
“Sami?”
Sami tak menoleh, tapi Hanan tahu Sami mendengarnya.
“Boleh aku tahu apa yang kau pikirkan?”
“Aku tak memikirkan apa pun,” Sami menghindar.
“Kau tahu Sami, sejak Ibuku meninggal dulu, aku hidup sendirian. Aku tak punya teman bicara, tak punya teman tertawa, apalagi teman berbagi tangisan. Aku menanggung semuanya sendiri.” Hanan diam sesaat menanti reaksi Sami. Tak ada. Tapi Hanan kembali melanjutkan, Sami tidak pergi, itu artinya, dia mau mendengarkan.
“Aku selalu bermimpi untuk memiliki seseorang. Siapapun dia, asal dia mau mendengarkanku, dan aku bisa mendengar dia. Apa menurutmu, keinginanku ini terlalu muluk?”
Sami memandang Hanan. Mata biru gadis ini terlihat sangat bening. Cahaya rembulan membuat mata itu terlihat begitu indah. Tapi wajah Huda telah memaku pandanganku...
“Boleh aku meminta sesuatu darimu, Sami?”
“Apa?” tanya Sami ketus seperti biasa. “Apa kau minta aku menyentuhmu?”
Hanan merasa tertusuk. Ia tak berpenampilan seronok. Pakaian tidurnya berbentuk gaun lebar berbahan katun. Bukan kain pendek berbahan satin tipis. Apa dimata Sami, membuka kerudung dihadapan suami begitu seronok? Hanan ingin menangis, tapi ia tak ingin berhenti mencoba.
“Bolehkah aku menjadi temanmu?” Hanan mengacungkan kelingkingnya kearah Sami. “Mau berdamai denganku Tuan Sami?”
Sami menatap wajah dan kelingking Hanan bergantian. Ia belum memutuskan.
“Ayolah! Kita akan hidup serumah, lho! Memangnya kau tak akan kesal terus bermusuhan denganku? Jika hubungan kita tidak baik, tak akan ada orang yang memasak untukmu, juga tak akan ada orang yang mencuci dan menyetrika pakaianmu. Benar kan?” Hanan membujuk seperti ia membujuk anak kecil. Tapi anak yang ini, ia tak suka permen.
Senyum yang mengembang dibibir Hanan layu perlahan-lahan. Melihat tak ada reaksi dari Sami, Hanan menarik kembali tangannya. Masygul ia sekarang.
“Apa kau ingin, malam ini aku tidur di sofa?” Hanan memandang bayangan purnama didalam kolam.
“Tidak. Kau akan tidur disini, Hanan.” Sambil berkata seperti itu, Sami meninggalkan Hanan keluar kamar. Dari tempatnya berdiri, Hanan memperhatikan Sami berjalan melewati ruangan tengah, lalu masuk kedalam kamarnya. Ya, kamar Sami. Ternyata untuk itulah Sami membuat dua kamar. Karena mereka akan tidur terpisah...

*   *   *

Hanan terus berpikir positif. Ia meyakinkan dirinya, kalau Sami akan berubah. Sikap Sami padanya akan menghangat. Entah kapan, tapi waktunya pasti datang. Ia hanya butuh bersabar.
Hanan melihat jam dinding. Pukul sepuluh malam, dan tanda-tanda Sami akan datang belum kelihatan. Hanan melihat makanan yang terhidang dihadapannya, tak ada lagi uap seperti tiga jam yang lalu. Pastinya makanan itu sudah dingin.
Apakah sekarang Sami pun tak makan di rumah?
Hanan berdiri dan mengambil tudung saji. Seharusnya ia makan saja sekarang, tak perlu lagi menunggu Sami. Tapi selain karena tak lapar, Hanan masih berharap Sami membuka tudung saji ini. Hanya membukanya saja, itu pun tak apa...

*   *   *

Sami bergegas keluar dari mobilnya dan menaiki tangga memasuki kantornya.
“Pagi sekali Pak Sami?” seorang Satpam di pintu depan menyambutnya. Sami menjawabnya dengan senyum ramah.
“Ya, banyak hal yang harus dikerjakan.”
“Pastinya,” kata satpam itu mengantar kepergian Sami yang tergesa. Sami mendesah pelan. Sebenarnya bukan hanya pekerjaan, tapi ada alasan khusus mengapa ia harus datang pagi-pagi sekali. Ia harus bertemu dengan seseorang yang menyelinap ke dalam ruangannya pagi-pagi sekali. Ia sudah tahu siapa orang itu, tapi ia hanya ingin bertemu dan melihat wajahnya sekilas saja.
Tepat di belokan, ia melihat sosok itu. Sosok yang baru saja keluar dari ruangannya. Itu pasti dia!
Mendengar langkah mendekat, orang itu menoleh dan tersentak. “Sami?”
“Huda?” Sami terpana. Ia menghentikan langkahnya tepat dihadapan Huda. “Sudah kuduga...”
“Aku hanya...,” Huda mencari alasan, tapi ia tak segera menemukan.
“Terimakasih,” kata Sami menghentikan Huda. Huda memandang Sami heran. Sami tak marah? Ia bahkan tersenyum? Huda merasa sangat lega. Ia beranjak dari sana setelah mengatakan permisi pada Sami.
Setelah Huda tak terlihat, Sami memasuki ruangannya dengan sumringah. Perutnya terasa lapar tiba-tiba, maka dihampirinya meja dengan tergesa-gesa. Tanpa membuka mantel dan jasnya, Sami lekas duduk dan memandangi sebuah benda yang setiap pagi selalu tersedia disana. Sekotak sarapan, lengkap dengan satu gelas jus jeruk hangat. Sami mengambil sendok dan membuka tutup kotak perlahan. Nasi gorengnya kelihatan sangat enak. Jika sekarang nasi goreng, menu makan siang nanti apa? Apakah rendang yang pedas seperti kemarin siang? Atau ikan seperti kemarin malam?
Seperti siang dan malam? Ah ya, Sami mendapati kotak itu bukan hanya saat sarapan, tapi juga saat makan siang dan malam hari sebelum ia pulang. Dan hati Sami selalu menanti-nanti kedatangan kotak itu. Sebenarnya bukan kotaknya, tapi seseorang yang membawa kotak itu. Huda...
Sementara Huda menekur di meja kerjanya. Ia menikmati senyum Sami yang baru saja didapatkannya. Entahlah, setelah Sami menikah, ia begitu takut bertemu laki-laki itu. Takut, jika Sami tak lagi memberikan senyum untuk dirinya. Tapi ketakutannya sama sekali tak terbukti. Ternyata Sami masih memberikan senyum untuknya! Huda benar-benar merasa lega.
Jadi karena Sami sama sekali tak marah ia memberinya makan, maka ia akan melanjutkan rutinitas itu sampai Sami yang memintanya berhenti. Tapi bagaimana dengan istri Sami? Senyum Huda tiba-tiba menguncup. Tidakkah ia bersalah pada wanita itu? Huda meremas tangannya sendiri. Tapi ia begitu ingin mendapat senyum itu. Tak apa kan? Ia hanya meminta sedikit, dari bagian wanita itu yang mendapat senyum Sami setiap saat? Maka Huda mendapat pembenaran. Rasa bahagia mendapatkan kenyataan bahwa Sami memperhatikannya telah menutup rasa bersalahnya. Maka berlangsunglah kebiasaan itu terus menerus. Entah sampai kapan.

*   *   *

Hari minggu. Sami tak mungkin pergi. Maka pagi-pagi sekali, Hanan menyiapkan sarapan untuknya. Nasi goreng kecap dengan dadar telur. Ibu bilang, itu sarapan kesukaan Sami.
“Sami?” Hanan mengetuk pintu kamar Sami yang tertutup. “Sarapan sudah kusiapkan.” Tak ada jawaban dari dalam.
“Sami?” Hanan mengetuk lagi. Kali ini dijawab dengan dengusan kesal.
“Aku tak lapar!”
Hanan mendesah. Apakah Sami tak pernah lapar sepanjang hidupnya? Setiap hari selama sebulan ini, Sami belum pernah terlihat makan. Memangnya dia roh halus yang tak butuh makan? Apa aku harus masak darah biar dia mau makan? Hanan mulai merasa kesal.
Dilihatnya dua piring nasi yang tersaji manis dimeja makan. Hanan memandanginya seperti ia memandang dua pasang makhluk paling menyebalkan di dunia. 
Sementara Hanan sibuk dengan kekesalan yang mulai menggunung dihatinya, Sami sedang tepekur dikamarnya. Mempertanyakan sikap Hanan. Kemana dia? Bukankah biasanya dia akan terus mengetuk kamar tanpa rasa bosan? Ia baru akan berhenti ketika Sami keluar rumah dan pergi bekerja. Ia akan dengan sabar meminta Sami menyentuh makanan. Tapi sekarang kemana dia?
Hati Hanan diliputi rasa kesal, sementara hati Sami diliputi rasa penasaran. Sami membuka pintunya perlahan-lahan, berusaha tak mengeluarkan suara sedikit pun. Diantara celah yang ia buat, Sami melihat Hanan duduk mematung dimeja makan. Matanya berkaca. Lalu tanpa diduga, Hanan berdiri dan mengambil dua piring nasi goreng itu dan... membuangnya!
Sami kaget. Ini reaksi yang tak diduganya sama sekali. Bukankah selama ini Hanan bersabar menghadapi dirinya? Tak digubris, dimarahi, bahkan dianggap tak ada, Hanan selalu bersikap seperti seorang istri layaknya. Tapi sekarang? Apakah batas kesabarannya telah habis? Sebersit rasa bersalah melintas dihati Sami. Aku pasti sudah berlebihan.
Brak!
Hanan membanting pintu kamarnya. Sami benar-benar syok. Setelah sepi yang lama, Sami baru benar-benar keluar kamarnya dan menghampiri tempat sampah. Disana teronggok sedih dua piring nasi goreng. Sami tak mengada-ada, Hanan memang membuangnya bersama piringnya sekaligus! Sami mengerjap. Kelihatannya gadis itu benar-benar marah. Ia mengambil dua piring itu lalu mencucinya. Ditempatnya berdiri, ia memperhatikan dapur sekeliling. Pisau dan talenan bekas mengiris bumbu, wajan bekas memasak, mangkuk bekas mengocok telur. Beberapa saat sebelum nasi goreng itu matang, Hanan pasti tengah sibuk disini. Sementara ia tak menyentuh hasil kerepotan gadis itu sama sekali! Dan ironisnya, Sami malah memakan masakan orang lain yang sebenarnya tak punya kewajiban memasak untuknya! Parahnya lagi, ia baru sadar, bahwa ia telah melakukan itu selama lebih dari satu bulan! Sami mendesah berat. Sekarang rasa bersalah itu bukan lagi sebersit, tapi melebar luas memenuhi rongga dadanya.
Salah apa gadis itu hingga Sami memperlakukannya sedemikian rupa? Tapi Ya Tuhan, aku tak mencintai gadis itu! Sami mencari alasan. Alasan yang langsung mendapat bantahan dari sisi hatinya yang lain. Perlukah sebuah cinta untuk memberi kebaikan pada orang lain?
Sami berjalan lemah menuju sofa. Ia lalu terduduk disana. Memikirkan banyak hal. Menunggu Hanan keluar. Paling tidak, ia mungkin perlu meminta maaf, dan berkata baik-baik, kalau Hanan tak perlu repot-repot memasak untuknya. Hhh telat, seharusnya Sami memikirkan itu sejak sehari pernikahan mereka.
Hanan duduk memeluk lutut. Sudah hampir beberapa hari ini selera makan Hanan hilang sama sekali. Perut yang kosong sudah bosan mengeluarkan bunyi, mereka lelah berdemo. Entah kapan tuntutan mereka untuk mendapat jatah makan bisa Hanan penuhi. Ia terlalu sibuk berpikir. Tentang sikap Sami sebulan ini, tentang kesabarannya menghadapi Sami.
Jika dipikir, ia seperti orang gila bila ada dihadapan Sami. Bertanya, tak pernah dijawab. Membuat kelakar, tak pernah mengundang tawa. Menyentuh, selalu ditepis. Ngobrol selalu sendiri. Nah, apalagi disebutnya seseorang yang bersikap seperti itu kalau bukan gila? Hanan tertawa pahit. Kesabarannya sudah habis. Benar-benar habis. Ia balas budi hanya kepada Ibu. Bukan pada makhluk itu (maksudnya Sami). Jadi, ia hanya punya kewajiban berbuat baik pada wanita itu, dan kebaikan itu tak berlaku pada Sami. Memangnya siapa dia yang berhak menerima kebaikanku begini rupa?
Tapi bukankah biduk rumah tangga yang sudah terlanjur terbangun harus ia pelihara? Sisi hatinya bersuara. Tapi kemudian Hanan ingat kata-kata Sami, walau bagaimana pun ia tak mencintai Hanan, laki-laki itu tak akan pernah menceraikan Hanan. Jadi jika laki-laki itu kuat bertahan, ia akan tetap jadi istri Sami. Tapi jika laki-laki itu tak berhasil mempertahankan rumah tangga mereka, kesalahan bukan ada padanya. Mukanya di depan Ibu tak tercoreng sedikit pun. Hanan tersenyum. Ia sudah membuat keputusan.
Berpikir dan membulatkan tekad untuk menjadi dirinya sendiri mulai saat ini ternyata butuh waktu lama bagi Hanan. Ia baru keluar kamar selepas dhuhur. Hanan merutuk dirinya sendiri. Sial. Kenapa ia membutuhkan waktu selama itu untuk berpikir, sementara Sami bahkan tak perlu berpikir untuk memperlakukannya seperti ini.
Hanan agak tersentak ketika mendapati Sami tengah duduk di sofa ketika ia keluar kamar. Tumben ia ada dirumah dan duduk disofa memandangi tivi yang tak hidup sama sekali. Pandangan mereka sempat bertemu, tapi sekilas saja. Hanan dapat mengendalikan keterkejutannya dengan cepat. Tanpa menoleh lagi, ia berjalan santai menuju dapur. Keterkejutan kedua ia dapatkan di pantry ini. Barang-barang kotor yang ia tinggalkan tadi, kini sudah bersih. Hanan memandang Sami dari belakang. Konsep rumah yang tanpa sekat memungkinkan Hanan melihat Sami dimanapun, kecuali di kamarnya. Diakah yang mencuci dan membereskan semuanya? Hanan kaget tentu saja. Tapi sebentar saja, sebab kemudian ia mengangkat bahu tak mau tahu. Dia yang mencuci atau bukan peduli amat. Kalau hantunya sekali pun yang mencuci karena hantunya Sami merasa iba padanya, Hanan tak peduli. Nah, hantunya Sami saja memungkinkan merasa iba padanya, kenapa ia tak iba pada dirinya sendiri? Hanan semakin bulat untuk mulai bersikap.
Hanan membuka kulkas dan meneliti isinya. Hah! Tak ada yang bisa dimasak selain telur! Sekarang, saat ia mau makan, tak ada yang bisa di makan. Kemarin-kemarin, ia masak segala macam setiap hari, ianya yang tak mau makan. Hanan mendesah. Sepertinya nanti sore ia harus belanja lagi. Hanan mengambil satu telur dan satu buah tomat. Tapi baru saja ia menutup kembali kulkas, gerakannya berhenti seperti kehabisan baterai tiba-tiba. Hah? Belanja? Ngapain juga? Kenapa ia harus repot-repot membuka dompetnya untuk sesuatu yang seharusnya bukan kewajibannya? Hanan menepuk kepalanya. Tolol sekali sih? Selama sebulan ini ia menghabiskan uangnya untuk hal yang sangat sia-sia!
Setelah mengorak-arik telur seadanya, Hanan mengambil nasi dan makan dengan lahap. Berapa hari ya ia tak bertemu nasi? Tanpa Hanan sadari Sami menoleh padanya.
“Kau masak apa?” tanya Sami berusaha lembut. Tapi usahanya gagal total, karena intonasi yang ia hasilkan terdengar ketus. Hanan menghentikan suapannya. Tapi cuma sebentar. Selanjutnya, ia meneruskan makan.
Sami mendekat dan duduk diseberang Hanan. Ia melihat piring Hanan. Kuning dan putih warna telur, merah warna tomat, dan hijau warna cabe rawit membuat air liur Sami hampir menetes. Ia juga belum makan dari pagi, karena nasi goreng yang seharusnya sudah dicerna dengan baik, kini malah jadi penghuni tempat sampah.
“Kau tak membuatkan makan untukku?” Sami bicara dengan intonasi yang sama. Membuat kemarahan Hanan yang belum menemukan muara hampir meledak sekarang. Tapi ia bertahan. Bertahan hingga suapannya benar-benar tandas. Setelah itu ia akan masuk kamar dan tak perlu makhluk menyebalkan ini lagi. Lagipula kenapa minta makan? Kemarin-kemarin kemana dia?
Melihat Hanan tak mempedulikannya, Sami mulai bicara lagi. Nadanya lebih ketus dari dua kalimatnya yang pertama. “Hei? Kamu tuli ya?” setelah mengatakan itu Sami merutuki dirinya sendiri. Seharusnya bukan seperti itu. Seharusnya ia mengatakan maaf terlebih dahulu. Maaf. Apa susahnya? Tapi memang susah Sami rasakan. Lidahnya benar-benar kelu. Kata maaf itu tak bisa keluar meski ia hanya berupa desahan.
Hanan melihat Sami sekilas. Ia baru mengacuhkan Sami tak lebih dari satu jam, tapi reaksinya sudah seperti ini. Apa Sami tak sadar kalau dia sudah mengacuhkan Hanan lebih dari satu bulan? 
“Apa?” tanya Hanan cuek.
“Apa kau tak membuatkan makanan untukku?”
“Heh, kenapa aku harus membuatkan makan untukmu?” Hanan menyelesaikan suapannya. Ia lalu meneguk air putih tiga kali tegukan.
“Aku belum makan sejak pagi.”
“Lalu?”
Hanan mengambil piring dan gelas lalu mencucinya. Tak sekalipun ia menoleh pada Sami.
“Lalu? Tentu saja aku lapar! Sekarang buatkan makanan untukku!” kini Sami bicara dengan kesal.
“Oh, Tuan Sami mau makan? Kenapa tak memasak sendiri? Atau keluar cari makan seperti biasanya?” Hanan selesai mencuci piring dan mematikan keran air.
“Apa?”
“Kenapa? Malas? Oh ya. Aku baru ingat ada makanan!” Hanan tersenyum sembari berjalan menuju kamarnya. Lalu pada saat ia didekat Sami, ia condongkan badannya sehingga kepalanya berdekatan dengan kepala Sami, ia bisikkan sesuatu tepat ketelinga Sami, “di tempat sampah!”
Dan melihat Sami menatapnya dengan mata murka ia tersenyum menang. Entah kapan terakhir ia tak merasa sesenang ini.
Cewek sialan! Padahal aku tadi hendak mengibarkan bendera damai, dia malah kembali mengajak perang! Tolol! Apa dia pikir bisa menaklukkan aku dengan cara seperti ini? Geraham Sami berderak-derak.
Dan, dimulailah perang itu...


*   *   *

Sebelumnya ; Bagian 1
Berikutnya ;Bagian 3

Tidak ada komentar:

Posting Komentar